Monday, October 27, 2014

Tidak Mengunjungi Kuburan di Toraja

Tongkonan, Tradtional House in Toraja
Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Toraja. Kali pertama saya mengunjungi Toraja bersama cewek Jerman yang mengajak saya join her trip. Berhubung hampir semua wisata kuburan telah saya kunjungi pada trip pertama saya di Toraja, akhirnya saya memilih wisata selain kuburan. Selain itu travel mate saya juga yang sudah seminggu di Toraja sudah mengunjungi hampir semua wisata kuburan di Toraja. 

Setelah breakfast di penginapan, kami menuju kantor dinas pariwisata, kebetulan teman kuliah saya, Norva bekerja disana. Saya meminta tourist map north toraja di kantor Norva untuk mengetahui tempat yang menarik untuk di kunjungi. Setelihat melihat map, kami tertarik untuk mengunjungi kebun kopi dan berhubung cuaca panas jadi kami juga memutuskan untuk berenang di kolam alam Tilanga.

Jarak kolam alam tilanga ternyata cukup jauh dari Rantepao, Rutenya mengarah ke Makale dari Rantepao. Untuk menemukannya tidak terlalu sulit, di jalan raya terpampang baliho besar yang menunjukkan tanda untuk belok menuju lokasi pemandian alam tilanga.

Sesampainya disana wisatawan mancanegara diharuskan membayar Rp 20.000 dan lokal Rp. 10.000 dan Joseph mau masuk tapi tidak ingin bayar! haddeuh... Akhirnya dia mencari jalan alternatif untuk masuk. Dari luar saya bisa melihat kalo pemandian alam ini sangat sepi pengunjung dan menurut saya berbahaya untuk masuk secara diam diam melalui jalur alternatif karena pengelola pasti hafal wajah pengunjung yang datang dan saya tidak ingin dapat masalah disana. Saya membujuk Joseph agar membeli tiket saja. Akhirnya setelah tawar menawar yang alot kami dapat spesial price Rp. 10.000 berdua. hehehhe Thanks......

Tiba tiba cuaca saat itu terasa dingin untuk berenang dan akhirnya kami memutuskan tidak berenang dan hanya duduk melihat remaja lokal yang asyik berenang dan lompat dari atas pohon menuju kolam. Joseph menyibukkan diri dengan membaca koran berbahasa perancisnya. 

Joseph mengatakan walaupun tidak berenang dia tidak merasa rugi membayar sepuluh ribu, melihat tempatnya yang bersih dan terawat saat kami datang. Dia merasa sangat senang mengunjungi kolam alam Tilanga. 

Kamudian kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Coffee Plantations. Kebun kopi ini terlatak di daerah bokin, Tidak mudah untuk mencapainya dari Rantepao, Jauh dan jalan yang dilalui jalan sempit yang aspalnya rusak belubang lubang, banyak batu batu dan berdebu. Saya berharap ketika sampai akan melihat pemandangan seperti kebun teh Malino. Setelah sampai di Tuarco Jaya, nama perusahaan pengelola kebun kopi ini, petugas pos meminta saya untuk mengisi buku tamu. Saya berpikir pasti petugasnya akan meminta uang sebelum masuk dan ternyata tidak, Setelah mengisi buku tamu saya langsung masuk kedalam lokasi kebun kopi.
On the way to coffee plantations

Jalan menuju kebun kopi ternyata menanjak dan berbatu batu, sangat sulit dilalui motor, Akhirnya saya berjalan kaki dan Joseph yang mengendarai motor sendirian. Setelah capek berjalan kaki ternyata kebun kopinya jauh dari harapan saya yang tertata bagus seperti kebun teh Malino. Jadi kopinya seperti tumbuh liar menyatu dengan pohon pohon lainnya. 

Jalan kaki didaerah berbukit bukit yang menanjak pastinya akan membuat kita merasa haus dan untungnya saya membawa dua fruit tea kotak. lumayan untuk mengganjal rasa haus dan lapar kami.

Disana kami hanya berdua istirahat di bale-bale berteduh dari teriknya panas matahari memandang pohon pohon kopi yang menyatu dengan pohon pohon lainnya yang terhampar hijau di depan kami, rasanya begitu damai dan tenang melihat hamparan hijau ini. Kemudian kami sharing tentang impian impian kami berdua sambil menuggu cuaca menjadi sejuk dan segera kembali ke Penginapan.

Tiba tiba lapar menyerang kami dalam perjalanan menuju penginapan, sudah hampir sore dan kami belum makan siang. Joseph memutuskan makan coto Makassar, dan saya mengiyakan untuk segera menuju warung coto Makassar. Dan ternyatata coto Makassar di Rantepao harganya lumayan mahal semangkuk dua puluh ribuan, Di Makassar saya bisa menemukan yang lebih murah semankuk hanya enam ribuan. 

Sehabis makan coto kami memutuskan membeli tiket bus menuju Poso Sulawesi Tengah, setelah membandingkan dua agen ternyata harganya rata rata Rp. 150.000. Kami membeli tiket yang akan berangkat besok pagi dan minta dijemput di penginapan kami.

Malamnya kami ke KAA Coffee Shop, yang tidak jauh dari Hotel Misiliana. Menurut teman saya, Norva kopi hitamnya sangat enak. Dan betul saja menurut Josph yang seorang pecinta berat Kopi, Kopi hitam tanpa gula yang dia minum adalah salah satu kopi terbaik yang pernah dia minum. Dia juga membeli sebungkus kopi arabica. 

Malam makin larut, kami juga sudah ngantuk dan kami memutuskan kembali ke penginapan untuk istirahat.