Sunday, July 12, 2015

First Day Waiter in Malaysian Cafe



Setelah melalui beberapa hari training di Cafe yang terletak di Victoria Park, Western Australia. Akhirnya kerja juga, Training disini ngga mendapat bayaran, Jadi setelah training selesai kamu bisa take away makanan. Makanan inilah gaji training kamu.

Hari pertama kerja shift gue cuman tiga jam doang start 6.30 pm selesai 9.30 pm. Tapi gue jam lima udah sampai, karena lagi puasa jadi sekalian buka puasa dulu sebelum kerja. Jam 6 gue udah mulai kerja karena boss gue minta gue kerja lebih awal karena gue masih harus belajar banyak. 

Waiter kerjanya nganter makanan ke meja costumer, bikin minuman dan nganterin ke costumer, bersihin meja, dan jadi Cashier juga.

So far yang susah buat gue itu jadi Cashiernya, harus ngafal pencet yang mana kalo costumer order menu dan harus cepat karena kadang antriannya panjang banget, apalagi cashiernya cuman satu doang.

Hari itu ada yang order Mee Goreng yang harganya $9.50, costumer bayarnya pake kartu debit. Di Resto ini kalo bayar pake kartu kena charge $0.50 sehingga total yang harus dia bayar jadi $10. Gue pencetlah angka 1 dan 0 di mesin itu dan mentap kartu itu dimesin, beres deh. Tapi ternyata belakangan teman gue cek, ini kok ada costumer yang bayar cuman $0.10 doang dan ternyata itu kerjaan gue. Gue jelasin ke temen gue tadi gue pencet angka 1 dan 0 dimesin gesek. Dan ternyata kalo $10 pencetnya 1 dan 0 tiga kali. 

Orderan dari Costumer
Kesalahan kedua gue. Ada kostumer yang order nasi beriani with beef rendang dan Fish Assam yang diasingkan. Gue dateng bawa sepiring nasi beriani with beef beriani and fish assam, kemudian costumer gue ngomel ngomel minta digigantiin karena fish asamnya ngga diasingkan. Gue pikir diasingkan itu artinya dibuat agak asin dan ternyata gue salah, diasingkan (Bahasa Malay) artinya dipisahin fish assamnya. hiks...

Nasi Beriani with Fish Assam and Beef  Rendang
So far gue suka kerja disini, good staff, ngga kayak staff staff waktu gue kerja di Cafe bule di Melbourne, Staffnya very rude dan doyang banget maki maki. Setiap ngomong suka ada kata f*ck yang terselip, kerjanya ngga terlalu berat and good pay, sayang shift minggu pertama gue cuman delapan jam dan belum bisa nutupin biaya rent kamar gue :(

Sunday, July 5, 2015

Sarung Membawa Berkah

IIbrahim Masjid, Southern River, WA

Ramadhan kali ini benar benar special buat gue, pertama kalinya gue menjalani bulan Ramadhan di luar negeri. Lebih tepatnya di Australia. Cobaan terasa luar biasa di Australia. Gimana ngga, disaat gue sedang manahan lapar dan haus, orang orang disekitar gue makan dimana mana. Pekerjaan di Australia yang benar benar menguras tenaga betul betul menjadi tantangan luar biasa untuk menyelesaikan puasa sampai selesai.

Gue udah ngga di Melbourne lagi, gue udah pindah ke Hungtingdale, Western Australia. Sayangnya jarak rumah gue ke Masjid boleh dibilang jauh banget, hampir 3 km, jalan kaki bisa memakan waktu hampir 30 menit.

Walaupun jarak rumah gue ke Masjid jauh gue selalu menyempatkan, Untuk Salat Tarawih di Masjid Ibrahim. Tantangan ke Masjid selain jarak yang jauh cuaca dingin banget dan kadang kadang hujan. Tantangan gue belum berhenti sampai disitu, since gue tinggalnya jauh dari city alias di Suburb, jalan sangat gelap apalagi banyak rumah yang gue lewatin tidak menyalakan lampu depan rumahnya. Rumah rumah udah mulai ngga terlihat lima ratus meter sebelum masjid sepanjang jalan hanya ada pohon pohon, suasana kadang bikin bulu kuduk merinding.

Kalo jalan menuju Masjid Ibrahim masih enteng, tapi pulangnya melihat semua orang naik mobil and i was always the only one walk on the road, disitu kadang saya merasa sedih :(

Berharap ada yang memberi tumpangan iba melihat gue jalan, tapi ngga ada juga yang berhenti dan memberikan gue tumpangan.

Beberapa hari kemudian gue mencoba pake kopiah ke Masjid, tetap orang orang hanya melewati gue aja, tapi suatu hari pulang Tarawih tiba tiba ada yang berteriak dalam Mobil Assalamualaikum. Tapi sayang ngge singgah, tapi gue cukup senang ada yang nyapa ketika gue jalan sendirian di jalan yang gelap, sepi, dingin dan kadang kehujanan.

Trik berikutnya gue pake sarung ke Masjid. waktu di Melbourne gue ngga berani pake sarung, takut dikira orang lagi, hahaha...

Tapi gue pikir disini kan sepi ngga banyak orang yang jalan jadi gue dengan berani memakai sarung dan kopiah, jadi orang bakal tau gue mau ke Masjid dan benar saja 10 menit jalan kaki udah ada mobil yang berhenti, Nyuruh gue naik di Mobilnya. Tapi pulangnya gue jalan kaki.

Hari kedua pake sarung ke Masjid adalagi orang baik hati yang memungut gue di Jalan, Bapak yang berasal dari Jordan ini, Ketika tahu gue berasal dari Indonesia dia terkejut banget, Berceritalah dia kalo dia baru dua tahun di Perth, Sebelumnya di Sydney kemudian ke New Zealand dan menetap di Thornlie. Beberapa tahun lalu dia berbisnis dengan orang Indonesia yang berasal dari Jakarta. tetapi dia ditipu dan uangnya ribuan dollar dibawa kabur. Semoga penipu itu mendapat ganjaran dan diberi hidayah.

Hari ketiga pake sarung ke Masjid masih ada yang tertarik mengangkut gue, kali ini orang Pakistan, seorang dokter, dia bertanya "Where do you live?' "I live on Firefalls Cl, about 3 km from home to Mosque." Dia terkejut dan mengucapkan "Masha Allah." Pulangnya dia mengantar lagi ke rumah dan hebatnya Dokter ini menawarkan diri untuk menjemput dan mengantar gue tiap hari return Home to Mosque, Sebelum Isha dan sebelum Fajr. 

Alhamdulillah... Thank you Allah...

My England Backpack is not allow to bring to Mosque

My England Bagpack

Untuk mengurangi kejenuhan gue di Melbourne, Gue memutuskan wisata spiritual di Melbourne, explore Masjid Masjid yang ada di Melbourne.

Masjid pertama yang menjadi tujuan gue adalah Fitzroy Mosque, Mesjidnya bagus, Tapi dari luar ngga ketahuan kalo di dalamnya ternyata mesjid. Berkat bantuan google map gue bisa menemukan mesjid ini. di Masjid ini tiba tiba ada orang africa yang nanya nanya lambang di tas gue, "Do you know what is this?" Tanya orang afrika sambil nunjuk gambar tas gue. "It is England Flag." Jawab gue. "It is a cross and it is not good to bring to Mosque." kata pria Afrika itu. Dia meminta gue menempel sesuatu menutupi gambar cross-nya atau menghilangkan salah satu garisnya sehingga tidak membentuk cross lagi. It means tas gue bakal rusak dong. Gue ngga mau!!! 

Inside Fitzroy Mosque
Dan akhirnya setiap gue ke Masjid gue selalu menutupi tas gue dengan Jaket. Takut ada yang negur lagi.

Masjid ke dua yang aku kunjungi adalah Melbourne Madinah. Dari luar juga ngga kelihatan seperti masjid. Gue menemukan masjid ini dengan bantuan google map. Semacam Auditorium atau Aula yang disulap jadi Masjid.

Masjid ke tiga dan Favorite gue adalah Islamic council of Victoria, Masjidnya bagus, dan terletak tidak jauh dari Flat gue di La trobe street, jalan kaki hanya 5-10 menit saja. Gue selalu shalat Isha disini dan Shalat jumat juga disini, Disini pula gue dapat teman baik banget yang namanya Ayidh and Aziz from Saudi Arabia, RMIT Students. Si Ayidh pernah ngajak gue renang dan jacuzzian di Apartmentnya di Southbank.

Islamic Council of Victoria

Enaknya shalat Jumat di Melbourne itu karana diadakan dua kali, seperti di Islamic Council of Victoria kalo winter Shalat jumatnya jam 12 dan jam 1 jadi kamu tinggal pilih aja.

Masjid ke Empat yang gue kunjungi adalah AAIS Albanian Mosque in North Carlton, Masjidnya bagus udah menyerupai masjid dan ada Towernya, cuman ngga pake pengeras suara kayak masjid masjid di Indonesia. Masjid yang dibangun pada tahun 1963 ini merupakan The first Mosque in Melbourne


AAIS Albanian Mosque, North Carlton

After a month in Melbourne




Satu bulan berlalu tanpa ada panggilan kerja sama sekali, Eh ada ding, ada tawaran kerja loper koran dan junk mail dari Richard tapi ngga gue ambil karena mikir udah mau move to Perth. Setelah tanya tanya Aurilien, a French who works for  Richard, ternyata Gajinya lumayan, 150 koran bisa dapat $100. Biasanya dia mulai sebar korannya dari jam 8 pagi selesai jam dua atau tiga sore.

Ngga lama setelah itu ada panggilan kerja di Resto Indonesia Bambu Kuning, Ownernya tanya gue available hari apa. Gue jawab hari apa aja bisa kecuali hari Jumat, kecuali bisa Izin shalat Jumat gue bisa. Setelah itu ngga ada kabar lagi dari Resto itu, dan setelah gue cari tau, ternyata shiftnya cuman sekali aja hari Jumat doang, makanya gue ngga dipanggil. 

Setelah itu ada temen di social media ngasih gue kontak temennya untuk ditanyain lowongan kerja. Setelah gue kontak gue ada panggilan interview. Kerja di semacam Resto cepat saji. Kerja di kitchen, masak masak, Jadi semacam chef Gajinya $10 per hour untuk dua minggu training, kalo kinerja bagus gaji bisa naik jadi $11 dan maksimum $12. Yang jadi masalah dia meminta gue komitmen kerja minimal tiga bulan. Nah ini yang sulit. Rata rata saat di interview kerja disini mereka akan tanya, berapa lama kamu bisa kerja disini? Tapi waktu gue diwawancara gue ngotot minimum cuman dua bulan, kalo gue suka bakal lebih lama lagi. Tapi mereka maunya gue komit minimal tiga bulan. Bisa aja sih gue iyain aja kerja tiga bulan, tapi gue mikir gimana kalo gue ngga suka kerja disana, apalagi gajinya kecil banget, Kalo gue dapat kerja dengan gaji yang lebih gede, Tapi belum tiga bulan gimana dong? Gue bakal merasa bersalah kalo gue iyain dan gue keluar sebelum tiga bulan. Kemudian manajernya nawarin gue kerja cleaning resto, Kerjanya cuci piring dan bersihin resto, Hobba aja yang $17 perhour gue tolak, apalagi ini $10 perhour, gaji dan capeknya ngga worth it Banget!!!!!

Gue udah makin mantap pengen pindah ke Perth, dan tiba tiba gue dapat tawaran kerja lagi di Resto Indonesia, Dia meminta gue ikut training yang masih tiga minggu lagi. Tapi gue dengan mantap menolak tawaran kerja itu karena akan pindah ke Perth. Gue ngga buang buang waktu lagi, Gue langsung booked flight ke Perth dan Minggu ke 10 gue move to Perth.

Saturday, July 4, 2015

Trip to Mornington Peninsula and Fort Nepean



Joseph, Torgis and Julien are enjoying the Sunset in Mornington Peninsula Beach
Joseph sms gue, "We will trip to mornington peninsula and spent a night in a camp. come to my flat tomorrow morning." Gue langsung girang bukan main, pertama kalinya gue bakal keluar Melbourne. Setelah sebulan stres mencari kerja yang ngga kunjung datang datang juga.

Berhubung akan tidur di camp, gue membawa sleeping bed pemberian Mariza Melia, WHV Perth yang cantik dan baik hati ;) Apalagi Lagi winter gini, Malam hari suhu bisa 4-9 derajat aja. Bisa membeku mak!

Yang berangkat ada lima orang Gue, Joseph, Ericka, Souen and Julien. Tapi Souen nyusul malemnya karena dia kerja. Semuanya ngomong perancis dan gue tenggelam dalam bahasa perancis dan ngga ngerti mereka ngomong apa.

Setelah semuanya siap kami menuju mobil yang di rent Joseph dan di Parkir depan rumah. Sampai depan mobil udah ada surat cinta aja yang Joseph temuin di mobil, ternyata Joseph ngga bayar parkir dan kena fine $70. Waks :/ Jadi kalo parkir mobil harus bayar, lewat kotak kotak yang tersedia di sekitar jalan itu, tiketnya taro di dashboard mobil karena petugas akan mengecek ke mobil. Udah bayar tapi tiketnya lu bawa ngga taro di dashboard, alamat kena fine alias tilang juga.

Sebelum ke Mornington Peninsula kami mampir dulu di Main Ridge Estate dan The Cups Estate, sekilas namanya seperti berhubungan dengan properti, Tapi Main Ridge Estate dan The Cups Estate adalah winery lengkap dengan vineyard view. Disini bisa wine tasting gratis, karena ada juga winery yang mengharuskan bayar jika ingin wine tasting. 

Gue perhatiin Joseph dan teman teman yang wine tasting kadang mereka ngga minum, Pertama gelas yang berisi dikit wine itu diputer puter, katanya biar aromanya keluar, setelah gelasnya diputar putar trus dicelupin deh (kidding). Setelah diputer mereka medekatkan hidung ke gelas untuk mencium aroma wine nya. kemudian diminum, tapi kadang ngga ditelan tapi dimuntahkan lagi, Karena yang di coba kadang ada banyak, kata Joseph walaupun segelas cuman dikit banget, tapi kalo minum 10-20 gelas bisa mabuk.


Nice View in The Cups Estate
Wine Tasting in Main Ridge Estate
Vineyard in Main Ridge Estate
Setelah puas wine tasting gratis kami melanjutkan perjalanan menuju Mornington Peninsula. Pantainya sih biasa aja ya, tapi tebing tebingnya keren, Udah beberapa kali mengunjungi pantai di Victoria mulai dari St. Kilda beach, Brighton beach dan Mornington Peninsula, tapi ngga pernah liat manusia berenang di Pantai, Kalo ada yang berenang gue acungi jempol, Bisa berenang disuhu 9-12 derajat celsius, Bisa beku mak!!! Apalagi gue denger denger Pantai di Australia banyak hiunya. 

Di Mornington Peninsula ini terdapat light house, tapi untuk memasukinya harus bayar, tetapi sesampainya disana loket yang menurut gue mirip warung udah tutup. Tapi ya gue ngga minat masuk kalo bayar hahahaha... Makan aja gue susah, boro boro buat beli tiket ngga jelas...

Dari parkiran menuju pantai terdapat tangga tangga kayu yang menyusuri  tebing sampai menuju pantai, Salut dengen pemerintahnya yang membangun tangga tangga kayu ini, menapaki tangga tangga kayu ini membuat gue terbang ke tembok raksasa china. Padahal masuk pantainya ngga bayar tapi fasilitasnya bagus, Ada toilet umum yang gratis juga di dekat parkiran mobil.
Way to Mornington Peninsula Beach


Mornington Peninsula beach
Setelah puas melihat sunset, kami meninggalkan pantai dan menjemput Souen di Station sekalian membeli daging buat barbecue-an ntar malam, Untuk mengganjal sementara lapar yang melanda kami mampir ke restoran cepat saji sambil memikirkan rencana selanjutnya.

Setelah browsing, ternyata kami tidak menemukan tempat untuk membuat camp,  kata Joseph disini tidak bisa sembarangan membuat camp bisa kena fine, So gmn dong?

Akhirnya Joseph memutuskan nginap di penginapan aja, What??? Gue mana mampu bayar! Jadilah kita menginap di Frankeston Hotel, Satu kamar aja, satu kamar tapi ada 3 single bed dan 1 double bed. Tiap orang bayar $20 tapi gue ngga bayar :p

Our room in Fankeston Hotel

 Paginya kami melanjutkan perjalanan ke Fort Nepean, Tempat ini merupakan tempat bersejarah, Ada meriam dan ada benteng buat tempat persembunyian masa perang dunia dulu. The good things Masuk areanya ngga bayar alias gratis dan pemandangannya juga bagus.


Gunners in Fort Nepean
Fort Nepean
Sayangnya gue bukan tipe orang yang bisa naik mobil jauh. Sepanjang perjalanan gue mabok darat. Mobil tua yang disewa Joseph belon jalan aja udah bikin gue mau muntah karena ada bau anehnya. Mobil yang udah tua gini getarannya terasa banget, apalagi jalan Australia yang sepi bikin mobil disini melaju dengan kecepatan tinggi walaupun disini ada limit speed. Tapi tetap aja kalo anak muda yang bawa kecepatannya ngga tanggung tanggung dan sukses mengocok perut gue dan hampir muntah aja, tapi ngga ada yang keluar. 

Setelah kembali ke Melbourne gue jadi mikir apa gue sanggup roadtrip melintasi jalan ribuan kilometer. 

Apa gue mengubur impian roadtrip gue aja, melihat kondisi gue yang suka mabok naik mobil?

Friday, July 3, 2015

Three weeks in Melboune




Setelah tiga minggu nyari kerja dan gak ada hasil, gue udah mulai jenuh di Melbourne, tiba tiba muncul ide untuk pidah state, antara mau ke Cairns dan Perth, mau ke Cairns karena kenalan WHV asal jepang di Melbourne, dia kerja housekeeping di Cairns dengan gaji $27 per hour, dan kata dia gampang cari kerja. tapi gue ngga berani pindah kesana, apalagi ngga ada kenalan disana. Sedangkan di Perth ada banyak anak WHV Indonesia. Temen gue Kamal juga ada di Perth dan nyemangatin gue pindah ke Perth aja.

Akhirnya gue memutuskan untuk move to Perth. Baru aja mikir mau move hape gue berbunyi ada SMS Richard. Gue smsnya hampir tiga minggu yang lalu dan baru balas sekarang, nawarin kerja jadi loper koran dan junk mail, naik sepeda keliling perumahan masukin koran dan junk mail kadang kadang. Gue bales si Richard kalo gue mau kerja tapi seminggu aja karena udah mau pindah ke Perth. But no reply from Richard after that.

Setelah mikir mau pindah gue sms Joseph untuk ketemuan. Joseph ngajak gue datang ke Flat dia. Dan curhatlah gue kalo gue mau pindah ke Perth aja. Tapi joseph meminta gue stay longer dan bakal bantuin gue keliling Melbourne nyari kerja. Dia juga ngajak gue buat roadtrip ke Mornington peninsula. finally gue mutusin stay sebulan lagi, kalo ngga dapet kerja baru bakal pindah.

Dan gue udah nolak tawaran kerja dari Richard. Rasanya mau sms balik, tapi udah merasa ngga enak sms dia lagi...




Thursday, July 2, 2015

For you, yes you who want to work and holiday in Australia





Setelah dipecat di Hobba cafe, gue jadi autis, gue menghabiskan waktu berjam jam depan komputer tiap hari, browsing gumtree dan seek.com

Banyak banget lowongan kerja Barista yang gue temuin. Housekeeping, dan sempat kenalan teman dari Jerman. Kerjaannya santai banget, cuman vacum dan bersihin mobil dan gajinya $21 per hour kalo week days, week ends lebih gede lagi. Tapi sayang gue ngga bisa nyetir. 

Rasanya menyesal datang kesini tanpa persiapan, Padahal sebelum berangkat ke Australia, rencananya pengen ikut driving course tapi ngga jadi.

Ngurus visanya kemarin sekitar enam bulan, bisa gue pake magang di cafe jadi Barista selama beberapa bulan, atau kerja housekeeping di hotel Indonesia. Atau belajar nyetir, Tapi gue malah keliling Jawa dan Sulawesi. Nyesal iya :( 

Jadi buat kamu yang akan berangkat WHV ada baiknya kamu magang dulu di Cafe atau Restaurant jadi Allrounder atau Barista, Saran sih Barista karena katanya Barista gajinya gede. 

Pekerjaan di Australia rata rata mengharuskan kamu punya pengalaman kerja. Walaupun cuman kerjaan dishwasher di CV harus ada pengalaman dishwahser, bisa ngarang ngarang aja sih, tapi kan nanti kamu di Trial ( semacam di test bisa kerja apa ngga). Jadi alangkah baiknya kalo kamu ada persiapan sebelumnya.

Housekeeping merupakan salah satu kerjaan mendulang dollar di Australia. Kerjanya sih berat [memang semua kerja berat kan,ya] Kamu dituntut making bed, membersihkan kamar sebersih mungkin dan biasanya satu kamar harus bersih dalam 25 menit [Biasanya] Beda hotel mungkin beda rule. Jadi ada baiknya kamu magang dulu di Hotel Indonesia jadi housekeeper biar ada pengalaman dan buat nambah nambah isi cv nanti.

Kalo kamu bisa nyetir motor dan Mobil buat SIM international di Jakarta, SIM international berlaku tiga tahun (kalo ngga  salah ya) banyak kerjaan yang mengharuskan kamu punya driving licence, jadi Au Pair aja biasanya harus ada driving licence buat ngantar dan jemput anak ke sekolah. Sim motor bisa kamu pake Apply kerjaan ngantar Pizza, seperti Domino dan Peperoni Pizza, Kemarin gue mau apply di mintain copi Sim international, Tapi gak punya. Bisa sih di translate di kedutaan, Tapi menurut gue lebih bagus bikin sim International aja. lebih lama berlakunya kalo Driving Licence International yang bisa kamu buat di Jakarta. 

Pokoknya persiapkan diri kamu sebaik mungkin sebelum berangkat ke Australia. Australia itu keras tapi bisa ditaklukkan.

Good luck :)

Casual Waiter

Joseph, Souen, Celine, Torgis 



Casual waiter in Melbourne Pavillion adalah salah satu kerjaan yang paling mengasyikkan selama gue di Melbourne. Melbourne Pavillion itu semacam aula atau auditorium yang biasa dipakai buat konser musik, wedding party, birthday party, dll.

Kerjaannya gampang banget. Cuman nganter makanan dan minuman ke meja tamu. Abis itu beresin mejanya, dan setelah acara selesai semua kursi dan meja di masukin ke gudang, aula harus kosong. Udah kerjanya santai dapat makan yang enak enak dan bisa minum coke, lemon squash sepuasnya. Gajinya $20 per hour. Langsung dibayar setelah selesai kerja.

Kerjaan ini gue dapat dari Julien temennya Joseph. Casual waiternya ada banyak hampir 20 orang biasanya. Dan gue terdampar di geng Perancis, karena yang bekerja disini semua mostly temennya Joseph, orang Perancis. Mereka ngomongnya Perancis doang. 

Hari pertama gue kerja di Melbourne, gue dapat dua kerjaan sekaligus. Jam 9 pagi sampai jam 5 sore nge-dj alias dishwasher di restaurant dan Malamnya jam 6sore sampe jam 2 pagi lanjut di Melbourne Pavillion. Hari itu gue benar benar capek se capek capeknya. Sebenarnya gue pengen nolak tawaran Julien kerja di Melbourne Pavillion, Karena udah capek banget kerja dishwasher. Apalagi julien nawarin gue jadi dishwasher lagi di Melbourne Pavillion. Tapi sampai sana Alhamdulillah jadi waiter. 

Malam pertama kerja di Melbourne Pavillion gue teler, ngga bisa jalan lagi, udah jam 1 pagi, dan gue kerja dari jam 9 pagi dan ngga ada istirahat. Gue berdiri bengong doang liatin orang angkat angkat kursi ngga bisa mikir lagi karena ngantuk ini udah ngga tertahankan. Gue izin ke Toilet. Gue tidur 10 menit. Gue pikir yang kerja ada banyak waiter plus bar staff hampir 30 prang gue ngilang bentar kayaknya ngga apa apa.

Setelah tidur 10 menit gue udah bisa jalan normal, ngga sempoyongan kayak mabok jalannya. Udah bisa ngangkat kursi dan meja lagi. Temen gue ngomel "Lu kemana aja orang lagi sibuk lu ngilang." Lu kalo berdiri dan bengong doang bisa dimarahin Cain, manager Melbourne Pavillion. "Sorry gue ngantuk banget, kerja dari pagi ngga ada istirahatnya, tapi gue sekarang udah bisa kerja kok." Udah tidur di Toilet soalnya. hehehehe

Sayangnya kerjaan ini casual, ngga setiap hari, kadang sekali seminggu, dan selama hampir dua bulan di Melbourne kerja di sini hanya tiga kali aja.


Wednesday, July 1, 2015

Dugem di Melbourne

Cedric Joseph and Ayumi

Suatu hari Joseph beliin gue tiket techno party, Tiket masuk dugem itu seharga $15.

Di Indonesia biasanya gue ke Club saat ada konser music. Bukan buat dance on the dance floor.

Party mulai jam 12am, tapi kami nyampe di Club jam 1am. 

Gue dikelilingi temen temen Joseph yang semuanya orang perancis. 

Tapi temen temen Joseph semuanya baik baik dan friendly.

Gue yang ngga minum alcohol pesen juice doang, yang bayar juga Joseph.

Di dance floor gue cuman goyang goyang dikit.

Temen Joseph kadang kadang menghampiri gue dengan goyangan yang heboh banget.

Satu jam di dance floor gue mulai bosan. dan gue memilih duduk di sofa aja.

Karena capek gue tutup mata gue. Istirahat bentar.

Tiba tiba security datang.

"You better go home sleep" kata Security.

Gue liat hape gue udah jam empat dan gue langsung pulang.

Joseph dan teman temannya balik jam 7 pagi.

Dan gue ngga ngerti apa enaknya joget sampe jam 7 pagi?

Dua jam aja gue udah bosen.

Mikir kalo diajak dugem lagi, mending tidur dirumah aja.

Messy Room




Roommates gue di La Trobe Street ada tiga orang, Rick from Netherlands, Liam from England and Maceo from France. 

Semuanya bule bule dari negara maju. tapi gue heran, mereka jorok jorok banget, Abis make baju langsung aja dilempar ke lantai, besoknya dipake lagi.

Pernah suatu hari gue terbangun dari tidur karena ada bau bangke, mirip mirip bau bangke tikus. Mulailah gue mencari dan mengendus dari mana asal bau ini. Dengan memaksimalkan indera penciuman gue hidung gue membawa gue ke bed si Liam. 

Argh ternyata Liam tidur memakai kaos kaki bau bangke. Sumpah gue jadi ngga bisa tidur waktu itu. British raksasa ini selalu bikin semua orang nahan napas. Kalo dia ada, pasti ada aja bau bau aneh.

Abis pup, toilet jadi bau banget, ngga ada yang berani masuk toilet kalo liam baru aja keluar toilet.

Temen gue biasanya langsung nyemprot pewangi ruangan sebelum masuk toilet kalau liam baru aja keluar toilet.

Pas Liam pindah ngga ada yang mau tidur di kasurnya dia. Saking baunya!!!

Dan akhirnya kasur liam diganti dengan kasur baru buat penghuni baru yang menggantikan Liam.